Pengasuh Pondok Pesantren Masih Saksi, Polisi Lengkapi Berkas Kasus Tewasnya Santri Bayuwangi

KOTA, JP Radar Kediri–Polres Kediri Kota terus melanjutkan pengusutan kasus tewasnya Bintang Balqis Maulana, 14, santri PPTQ Al-Hanifiyyah. Meski demikian, hingga kemarin korps baju cokelat baru menetapkan empat tersangka yang semuanya merupakan santri atau teman Bintang. Adapun pengasuh Ponpes Al Hanifiyyah masih sebatas saksi.           Sebelumnya, warganet banyak yang menyoal terkait tanggung jawab pesantren dalam kasus meninggalnya Bintang. Terutama terkait dugaan kelalaian dalam pengawasan hingga membuat pemuda dari Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi itu tewas setelah dianiaya berkali-kali oleh empat santri di area pesantren.

Ngeri, Orok Dikubur di Samping Rumah, Polisi Buru Pelaku, Diduga Hasil Hubungan Gelap

JP Radar Kediri-Warga Dusun Pule Selatan, Desa Pule, Kecamatan Kandat kemarin pagi geger. Mereka bergerombol menyaksikan pembongkaran gundukan tanah di pekarangan Mujianto, 42, yang ternyata berisi orok. Hingga kemarin sore polisi masih memburu pelaku yang identitasnya dalam penyelidikan itu.  Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, gundukan misterius itu ditemukan Mujianto sekitar pukul 06.30 kemarin. Saat itu, dia hendak berangkat ke sawah. “Saat saya mengeluarkan motor saya lihat ada gundukan tanah di samping rumah,” kata Mujianto menceritakan temuan gundukan tak bertuan di pekarangannya itu.

Berkas Penganiaya Santri Pondok Pesantren Dikembailkan Jaksa

KOTA, JP Radar Kediri-Penyidik Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kediri Kota harus bergerak cepat menindaklanjuti petunjuk jaksa penuntut umum (JPU). Hal tersebut menyusul pengembalian berkas yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Kediri ke Polres Kediri Kota kemarin. Sesuai hasil penelitian, mereka menilai ada beberapa berkas administrasi yang masih harus dipenuhi terkait kasus kematian Bintang Balqis Maulana, 14.

Tim Hukum Hotman Paris Dampingi Keluarga Bintang

KOTA, JP Radar Kediri–Keluarga Bintang Balqis Maulana, 14, santri PPTQ Al-Hanifiyyah yang meninggal dianiaya oleh empat santri pada Jumat (23/2) lalu, datang ke Polres Kediri Kota kemarin siang. Didampingi tim hukum dari Hotman Paris Hutapea, mereka menanyakan perkembangan pengusutan kasus yang membuat bungsu dari tiga bersaudara itu pulang dalam kondisi tak bernyawa Sabtu (24/2) lalu.

Lemas, Masih Dibanting, Tewas setelah Satu Jam di RS

KOTA, JP Radar Kediri-Penganiayaan yang dialami Bintang Balqis Maulana, 14, di Ponpes Al-Hanifiyyah (sebelumnya disebut Ponpes Al-Hanafiyyah) Desa Kranding, Mojo, tidak hanya terjadi di satu lokasi. Melainkan, dilakukan di tiga tempat yang berbeda. Bahkan, di lokasi terakhir dia masih dibanting sebanyak tiga kali oleh pelaku meski sudah dalam kondisi lemas. Hal tersebut tergambarkan dalam rekonstruksi yang digelar di Polres Kediri Kota kemarin.           Pantauan koran ini, rekonstruksi yang dilakukan di ruang Rupatama, Polres Kediri Kota itu dilakukan sekitar 10.30. Total ada 55 adegan yang diperagakan oleh empat tersangka hingga pukul 12.00 kemarin. Mereka adalah AK, 17, santri asal Surabaya; AF, 16, sepupu Bintang, asal Bali; MA, 18, asal Nganjuk, dan  MN, 18, santri asal Sidoarjo.

Keluarga Santri Tewas Minta Bantuan Hotman Paris

Sementara itu, kasus tewasnya Bintang di Ponpes Al Hanafiyyah jadi perhatian pengacara kondang Hotman Paris Hutapea. Pengacara kenamaan itu memastikan akan membantu proses hukum kasus tersebut. Hal tersebut diungkapkan oleh Suyanti, 38, ibu korban. Ditemui Jawa Pos Radar Genteng, dia menyebut surat kuasa dan dokumen yang dibutuhkan untuk pendampingan hukum sudah dikirim ke pengacara kenamaan di Jakarta itu.  “Sudah tadi (kemarin), mengirim surat kuasa, dokumen, dan identitas kami ke Pak Hotman,” tuturnya. Suyanti mengaku butuh bantuan Hotman Paris agar kasus meninggalnya putra bungsunya itu bisa berjalan secara adil. Selebihnya, dia juga perlu menjaga keamanan keluarganya. “Saya sebagai pihak korban kehilangan nyawa. Saya membutuhkan pendamping yang benar-benar membela saya,” urainya.